MAKALAH
TUNAWICARA
Disusun untuk memnuhi tugas mata kuliah BK dengan anak
berkebutuhan khusus yang dibimbing oleh: Dwi Sulistiyana S.Pd.
Logo
Disusun oleh :
Kelompok II
1.
Khotibul Umam
2.
Moh. Dhofir
3.
Faisal Amin
4.
Hosnan
5.
Qurratul Aini
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya atas terselesaikannya makalah dengan judul “ANAK TUNAWICARA” dalam rangka untuk memenuhi tugas semester tujuh mata
kuliah anak berkebutuhan khusus. Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan dari
beberapa pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1.
Dosen
2.
..
3.
...
Penulis menyadari dalam penysunan
makalah ini jauhd ari kesempurnaan. Hal ini sesuai dengan motto “Tak ada gading yang tak retak” begitu juga kami yang menyadari bahwa makalah
ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mohon kritik dan saran yang
bersifat membangun agar menjadi lebih baik lagi. Adapun harapan kami semoga
makalah ini dapat diterima dengan semestinya dan bermanfaat bagi kita. Amin.
Pamekasan, 09 Nopember 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Kata pengantar.................................................................................................... ii
Daftar isi............................................................................................................. iii
Bab I. Pendahuluan............................................................................................. 1
1.1 Latar belakang..................................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah .......... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................ 2
Bab II. Pembahasan ........................................................................................... 3
2.1 Pengertian Tuna Wicara...................................................................................... 3
2.2 Faktor penyebab Tuna Wicara............................................................................ 3
2.3 Klasifikasi Tuna Wicara...................................................................................... 7
2.4 Karakteristik Tuna Wicara.................................................................................. 8
2.5 Hambatan yang Dialami Anak Tuna Wicara....................................................... 9
2.6 Penanganan pada Anak Tuna Wicara................................................................. 9
2.7 Pendidikan bagi Anak Tuna Wicara................................................................... 12
Bab III. Penutup ................................................................................................ 14
3.1
Kesimpulan ................................................................................................. 14
3.2 Saran.............................................................................................................
14
Daftar pustaka.....................................................................................................
15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Setiap anak yang lahir di dunia
adalah anugerah terindah dari Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap orang tua.
Adapun setiap anak terlahir dengan sempurna ataupun terlahir secara istimewa
memerlukan perhatian dan pelayanan khusus dari orang tua maupun lingkungan
sekitar.
Salah satu anak
luar biasa atau istimewa itu adalah anak tuna wicara. Anak tunawicara, mereka sebenarnya sama
dengan anak normal pada umumnya tetapi mereka mempunyai hambatan dalam
berbicara. Dengan kondisi ini seperti ini maka pentingnya pemahaman yang harus
dimiliki setiap orang tentang tuna wicara agar anak mendapatkan hak yang sesuai
dengan kebutuhannya. Inilah yang menjadi latar belakang pembuatan makalah ini.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Apa yang
dimaksud dengan tunawicara?
1.2.2
Apa saja faktor
penyebab tunawicara?
1.2.3
Apa saja klasifikasi
tuna wicara?
1.2.4
Apa saja
karakteristik anak tuna wicara?
1.2.5
Apa saja hambatan dan
gangguan anak tunawicara?
1.2.6
Bagaimana
bantuan atau penanganan yang harus dilakukan pada anak tuna wicara?
1.2.7
Bagaimana pendidikan
anak tuna wicara?
1.3
Tujuan
1.3.1
Mengetahui
pengertian tunawicara
1.3.2
Mengetahui
faktor penyebab tunawicara
1.3.3
Mengetahui
klasifikasi tunawicara
1.3.4
Mengetahui
karakteristik dan gejala tunawicara
1.3.5
Mengetahui
hambatan dan gangguan anak tunawicara
1.3.6
Mengetahui
bantuan yang dapat diberikan pada tunawicara
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tunawicara
Menurut Heri Purwanto
dalam buku Ortopedagogik Umum (1998) tuna wicara adalah apabila seseorang mengalami kelainan baik
dalam pengucapan (artikulasi) bahasa maupun suaranya dari bicara normal,
sehingga menimbulkan
kesulitan dalam berkomunikasi lisan dalam lingkungan.
Sedangkan menurut Menurut Frieda Mangunsong,dkk dalam Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa, tuna wicara atau kelainan bicara
adalah hambatan dalam komunikasi verbal yang efektif. Kemudian
menurut Dr. Muljono Abdurrachman dan Drs.Sudjadi S dalam Pendidikan Luar Biasa Umum (1994) gangguan wicara atau tunawicara adalah suatu
kerusakan atau gangguan dari suara, artikulasi dari bunyi bicara, dan atau kelancaran berbicara.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa anak
tunawicara adalah individu yang mengalami gangguan atau hambatan dalam dalam
komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
2.2 Faktor
Penyebab Tuna Wicara
Drs.Sardjono mengutip (Moh. Amni
dkk,1979,hal 23) Anak tunawicara dapat
terjadi karena gangguan ketika :
1. Sebelum anak dilahirkan/ masih dalam
kandungan (pre natal)
2.
Pada
waktu proses kelahiran dan baru dilahirkan (umur neo natal)
3. Setelah dilahirkan ( pos natal)
1. Gangguan pre
natal
a.
Hereditas
(keturunan)
Yaitu apabila anak tunawicara sejak
dalam kandungan karena diantara keluarga terdapat tunawicara atau membawa gen
tunawicara sehingga ketika lahir anak tersebut memiliki gangguan tunawicara.
Ini disebut dengan tuli genetis. Perbedaan rhesus ayah dan ibu juga dapat
menyebabkan abnormalitas pada kelahiran anak.
b.
Anoxia
Kekurangan oksigen dalam janin dapat
menyebabkan kerusakan pada otak dan syaraf yang menyebabkan ketidaksempurnaan organ salah satunya aorgan bicara seperti pita suara,tenggorokan,lidah,dan
mulut.
2. Gangguan neo
natal
2.1 Prematur
Bayi-bayi prematur yang lahir dengan
berat badan tidak normal dan lahir dengan organ tubuh yang belum sempurna dapat
mengakibatkan kebisuan yang kadang disertai ketulian. Kurangnya berat pada
ketika lahir juga dapat menyebabkan jaringan-jaringan
3. Gangguan pos
natal
3.1 Infeksi
Sesudah dilahirkan anak menderita infeksi misalnya
campak yang menyebabkan tuli preseftik,virus akan mennyerang cairan koklea,menyebabkan anak menderita otitis media
(koken). Akibat yang sama akan terjadi bila anak
menderita scaerlet fever,dipteri, batuk hejang atau tertular sifilis.
3.2 meningitis(radang selaput otak)
Penderita akan mengalami kelainan pada
pusat syraf pendengaran dan akan mengalami ketulian perseptif.
3.3 infeksi alat pernafasan
Seseorang dapat menjadi tuna wicara
apabila terjadi gangguan pada organ pernafasan seperti paru-paru, laring, atau
gangguan pada mulut dan lidah.
Kelainan bahasa dan bicara
seringkali berkaitan dengan kelainan yang lain. Frieda Mangunsong dkk dalam buku Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Basa mengutip
Nelson (1993) secara spesifik mengemukakakn
faktor-faktor yang berkaitan dalam bicara yaitu :
1. Faktor Sentral
Yaitu
berhubungan dengan susunan syaraf pusat,yaitu
1.1 ketidakmampuan berbahasa secara
spesifik
1.2 keterbelakangan mental
1.3 luka otak (brain injury)
1.4 autisme
1.5 defisit dalam hal perhatian dan
hiperaktivitas, dll
2. Faktor Periferal
Berhubungan dengan gangguan sensoris
atau fisik,yaitu
2.1 Gangguan pendengaran
2.2 Gangguan penglihatan
2.3 Gangguan fisik
3. Faktor Lingkungan
Disebabkan oleh faktor lingkungan
dan psikologik, seperti
3.1 Penyia-nyian dan penganiayaan
3.2 Masalah perkembangan perilaku dan
emosi
4. Faktor campuran
Yaitu kombinasai atau gabungan dari
faktor-faktor diatas.
Dalam
buku Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa (1998) Frieda Mangunsong dkk
mengemukakan Tunawicara juga dapat
disebabkan oleh :
1. Gangguan kelancaran bicara
2. Kelainan artikulasi
3. Kelainan suara
4. Kelainan bahasa
1. Gangguan kelancaran bicara
Gangguan kelancaran bicara sering
disebut dengan gagap. Gagap dapat disebabkan berbagai faktor yaitu :
1.1 gangguan emosi
1.2 kerusakan otak
1.3 kerusakan syarat
1.4 gangguan organ bicara
2. Kelainan artikulasi
Kelainan artikulasi adalah keadaan
dimana suara bahasa diganti, dihilangkan, dirambah atau didistorsikan. Kelainan
ini disebabkan dari kesalahan memproduksi bunyi yang mengakibatkan kebiasaan.
Kesalahan memproduksi suara diakibatkan karena koordinasi otot-otot mulut dan
wajah yang tidak kuat. Selain itu kelainan artikulasi juga disebabkan oleh
lingkungan anak, karena seorang anak belajar berbicara melalui proses peniruan
atau imitasi, jika dalam lingkungannya terdapat kesalahan dalam artikulasi
makan kemungkinan anak tersebut juga akan mengalami kesalahan dalam artikulasi
3. Kelainan suara
Kelainan suara dapat disebabkan oleh
3.1 penyakit seperti laringitis yang
menyebabkan suara menjadi serak
3.2 Terdapat tumor pada pita suara
3.3 Kelainan pada pitch atau tinggi
rendahnya nada. Suara terlalu tinggi,rendah, atau monoton
4. Kelainan bahasa
Kelainan
bahasa disebabkan disfungsi susunan syaraf pusat atau kerusakan susunan syaraf
pusat yang secara medis sulit diperbaiki.
2.3 Klasifikasi
Tunawicara
Dalam buku Ortopedagogik
Umum(1998), Heri Purwanto mengemukakan tunawicara secara umum
diklasifikasikan menjadi 4 bagian,yaitu
1.
Keterlambatan
bicara (Delayed speech )
Yaitu
seseorang yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan bicaranya jika
dibandingkan dengan anak seusianya.
2. Gagap (stuttering)
Yaitu kelainan dalam memulai pembicaraan dapat berupa,
a.
Pemanjangan
fonom atau suku kata depan (prolongation),
b.
Pengulangan
suku kata depan ( repetition ),
c.
Gerak mulut berbicara namun tidak keluar suara (
silent struggle )
d.
Anak
dengan kekacauan dalam berbicara (cluttering), biasanya berupa bicara terlalu
cepat, struktur kalimat tidak karuan, repitisi berlebihan.
3.
kehilangan
kemapuan berbahasa(disphasia).
Yaitu kehilangan kemampuan berbahasa
mulai dari kesalahan dalam inti pembicaraan sampai tidak dapat bebicara sama
sekali.
4.
Kelainan
suara(voice disorder)
Ditandai dengan perbedaan suara dengan anak normal.
Adapun kelainan suara berupa
a.
Kelainan
nada(pitch)
Kelainan nada bicara dapat berupa nada
terlalu tinggi, terlalu rendah, atau monoton.
b.
Kelainan
kualitas suara
Kelainan
kualitas atau warna suara berupa serak, lemah, atau desah.
c.
Kelainan keras
lembutnya suara.
Kelainan ini
dapat berupa suara keras ataupun suara lembut
2.4 Karakteristik tuna wicara
Menurut Heri Purwanto dalam Ortopedagogik umum (1998)
yang merupakan karakterisktik anak tunawicara adalah :
1. Karakteristik bahasa dan wicara
Pada umumnya anak tunawicara memiliki kelambatan dalam perkembangan bahasa
wicara bila dibandingkan dengan perkembangan bicara anak-anak normal.
2. Kemampuan intelegensi
Kemamapuan intelegensi (IQ) tidak berbeda dengan anak-anak
normal, hanya pada skor IQ verbalnya akan lebih rendah dari IQ performanya
3. Penyesuaian emosi,sosial dan
perilaku
Dalam melakukan interaksi sosial di masyarakat banyak
mengandalkan komunikasi verbal, hal ini yang menyebabkan tuna wicara mengalami
kesulitan dalam penyesuaian sosialnya.Sehingga anak tunawicara terkesan agak
eksklusif atau terisolasi dari kehidupan masyarakat normal.
Sedangkan yang
merupakan ciri-ciri fisik dan psikis anak tunawicara adalah .
a.
Berbicara
keras dan tidak jelas
b.
Suka
melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya
c.
Telinga
mengeluarkan cairan
d.
Biasanya Menggunakan alat bantu dengar
e.
Bibir
sumbing
f.
Suka melakukan
gerakan tubuh
g.
Cenderung
pendiam
h.
Suara
sengau
i.
Cadel
2.5 Hambatan
yang dialami anak tunawicara
Anak tunawicara
memiliki keterbatasan dalam berbicara atau komunikasi verbal, sehingga mereka
memiliki hambatan dan kesulitan dalam berkomunikasi dan menyampaikan apa yang
ingin mereka rasakan. Kesulitan dalam berkomunikasi akan semakin parah apabila
anak tunawicara ini menderita tungarungu juga. Adapun hambatan - hambatan yang
sering ditemui pada anak tuna wicara :
a.
Sulit
berkomunikasi dengan orang lain
b. Sulit bersosialisasi.
c.
Sulit
mengutarakan apa yang diinginkannya.
d. Perkembangan pskis terganggu karena
merasa berbeda atau minder.
e.
mengalami
gangguan dalam perkembangan intelektual, kepribadian, dan kematangan sosial.
2.6 Penanganan
pada anak tuna wicara
2.6.1
Latihan Artikulasi
Artikulasi adalah gerakan otot-otot dari langit-langit,
rahang lidah dan bibir yang perlu untuk bicara. (Drs.Sardjono,1990, Ortopedagogik tuna rungu-wicara). Sardjono mengutip De vreede Varekamp (1973)
ada 4 latihan yang perlu dilakukan dalam membantu anak tunawicara, yaitu
a.
Latihan meniup
b.
Latihan bibir
c.
Latihan lidah
d. .Latihan velum
(untuk anak yang berbicara sengau)
2.6.2 Terapi Wicara (speech therapy)
Yaitu
pengembangan kemampuan bicara anak tuna wicara dengan melatih pengucapan oral (
mulut ).
2.6.3 Speech development
Yaitu
pengembangan kemampuan bicara. Anak tunawicara dapat diajar berbicara. Dalam
masyarakat masih banyak orang yang berfikir bahwa anak tuna wicara
tidak dapat membawa suara. Pendapat ini salah sebab anak tuna wicara
dapat bersuara. Hal ini tergantung melatih suara tersebut untuk berbicara.
2.6.4 speech Improvement
Yaitu
segala macam usaha yang berhubungan dengan pengembangan kemampuan bicara.
Contoh : grammar, spelling, reading, dam comprehension. Setelah anak terbiasa
mengucapkan kata-kata dengan baik maka perlu peningkatan bicara dengan menambah
beberapa perbendaharaan kata.
2.6.5 Speech correction
Yaitu
suatu pembetulan bicara yang brbau terapi, dengan cara membetulkan dan
mengoreksi istilah-istilah yang tidak benar.
2.6.6 Speech education
Yaitu pendidikan bicara dan
berbahasa.
Cara
membantu tunawicara:
Cara untuk
membantu anak tunawicara adalah :
a) Bicara harus
jelas dengan ucapan yang benar
b) Gunakan kalimat
sederhana dan singkat
c) Gunakan
komunikasi non verbal seperti gerak bibir atau gerakan tangan
d) Gunakan pulpen dan
kertas untuk menyampaikan pesan
e) Bicara berhadapan
muka
f) Latihan gerak
bibir dengan cermin
g) Latihan menggunakan bahasa
isyarat
(ABK
TUK TENDIK.pdf Revisi I :
Yogyakarta, 23-26 Maret 2010 dr Yulia Suharlina dan Hidayat)
Cara membantu anak
dengan hambatan berbicara dan bahasa
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu anak dengan
hambatan bicara dan bahasa adalah :
a. Tidak menuntut anak untuk berbicara menggunakan tata bahasa
yang benar. Yang utama adalah menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan
untuk anak berlatih bicara.
b. Saat mengajak anak berbicara, hindari hal-hal lain yang mungkin
dapat mengganggu, seperti radio dan televisi yang menyala.
c. Tidak terlalu banyak melakukan kritikan atas bicara dan bahasa
anak, sehingga anak tidak tertekan ketika berbicara dan berbahasa.
d. Ijinkan anak untuk berhenti bicara jika anak merasa tidak
nyaman.
e. Jangan meminta anak untuk mengulangi ucapannya.
f. Orang dewasa harus berbicara dengan pelan dan jelas pada anak
agar dapat ditangkap dan dicontoh maksudnya.
g. Biarkan anak berbicara dan mengucapkan kalimatnya sampai
selesai, jangan pernah dipotong pembicaraannya.
h. Menatap mata anak ketika berbicara dan tidak menunjukkan
kekecawaan atas proses bicara dan berbahasa anak.
i. Terus melatih anak dengan memberikan contoh yang baik dan
selalu berbicara dengan jelas.
2.7 Pendidikan bagi anak tuna wicara
Anak tuna wicara perlu di tampung
dan diberi pendidikan seperlunya disesuaikan dengan ketunaannya. Sekolah yang khusus
menanpung anak tuna wicara disebut sekolah luar biasa bagian B. (SLB B).
Berpangkal pada ketentuan-ketentuan bahwa :
“-segala
warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahaan…….. (pasal
27 ayat 1 UUD 45). Kemudian bahwa :
-tiap-tiap
arga Negara berhak mendapatkan pengajaran ( pasal 31 ayat 1 UUD 45)
Juga
dalam uu no.12 tahun 1954 sebagai undang-undang pokok pendidikan, menetapkan
antara lain sebagai berikut :
a.
Pendidikan
dan pengajaran berdasarkan atas asas-asas yang termaktub dalam pancasila,
undang-undang dasar nedara republic Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan
(bab III, pasal 4 )
b. Pendidikan dan pengajar luar biasa
di berikan dengan khusus untuk mereka yang membutuhkan (pasal 6 ayat 2)
c.
Pendidikan
dan pengajaran luar biasa bermaksud pada orang-orang yang dalam keadaan
kekurangan, baik jasmani maupun rohaninya, supaya mereka dapat memiliki
kehidupan lahir batin yang layak (pasal 7 ayat 5).
Berdasarkan pedoman pelaksanaan kurikulum slb untuk tuna
rungu wicara bagian B tahun 1977 buku III A 1 dijelaskan kurikulum SLB / B 1976
mengarahkan pada suatu pengajaran bahasa untuk membentuk tuna rungu wicara yang
memiliki sikap dan bagian mata, dimana diperhatikan ke seluruhan hidup manusia
yang cacat pendengaran dengan segala akibatnya dan kekhasannya sebagai manusia
“Pemata” dan diusahakan menyusun hubungan pengertian yang akumulatif dengan
keadaan hidup sesengguhnya, yang mencakup kenyataan dan lingkunagan sekitar, tetapi tugas – tugas
sosial, budaya dana politik dalam masyarakat.
Adapun tujuan pendidikan bagi tuna
rungu wicara agar anak dalam proses belajar mengajar dapat secara langsung
berhadapan secara tatap muka agar siswa dapat :
a.
Menangkap
bentuk ucapan dana pembendahraan kata.
b. Menambah bentuk ucapan ungkapan.
c.
Menambah
ucapan kalimat.
d. Menambah keseluruhan isi cakapan.
e.
Memanfaat
sisa pendengaran.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Anak tunawicara adalah individu yang
mengalami gangguan atau hambatan dalam dalam komunikasi verbal sehingga
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
Faktor penyebab tuna wicara
disebabkan oleh gangguan pada sebelum kelahiran (pre natal) , saat kelahiran
(neo natal) dan setelah kelahiran (pos natal)
Klasifikasi anak tuna wicara antara
lain keterlambatan bicara, gagap,
Tuna wicara dapat di
Karakteristikkan menjadi 3 yakni bahasa dan wicara , kemampuan intelegensi dan
penyesuaian emosi,sosial dan perilaku.
Hambatan yang dialami anak
tunawicara antara lain , Sulit berkomunikasi dengan orang lain: Sulit
bersosialisasi, Sulit mengutarakan apa yang diinginkannya, Perkembangan pskis
terganggu karena merasa berbeda atau minder, mengalami gangguan dalam
perkembangan intelektual, kepribadian, dan kematangan sosial.
Penanganan anak tunawicara dapat dilakukan dengan cara , latihan Artikulasi, Terapi Wicara (speech therapy), Speech development, Speech Improvement ,Speech correction, Speech education.
3.2
SARAN
Anak tuna wicara harus dibantu agar
dapat bersosialisasi dengan orang lain sehingga ia tidak dipandang melalui
kekurangannya. Anak tuna wicara juga dapat dilatih seperti manusia normal pada
umumnya, namun mereka hanya sulit berbicara. Tuna wicara juga memerlukan
pendidikan yang dapat mendukung mereka serta menghilangkan hambatan – hambatan
pada diri mereka seperti sekolah- sekolah umum dan khusus.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrachman,
Muljono dan Sudjadi, (1994), Pendidikan Luar
Biasa Umum .Jakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan
Mangunsong,
Frieda, dkk.( 1998), Psikologi dan
Pendidikan Anak Luar Biasa. Jakarta: LPSP3 UI
Purwanto,
Heri,( 1998), Ortopedagogik Umum.
Yogyakarta : IKIP Yogyakarta
Sardjono,(1990),
Orthopaedagogiek Lanjut. Surakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar